SEARCH

Showing posts with label Teori Pasar Tradisional. Show all posts
Showing posts with label Teori Pasar Tradisional. Show all posts

"KUMUH"NYA ARSITEKTUR PASAR TRADISIONAL























Pada edisi terdahulu, kita pernah membahas tentang pasar tradisional yang sejarahnya berawal dari satu di antaranya adalah penjual es poteng.Es poteng ini sangat populer di Makassar, kalau di Jawa semacam penjual es campur-lah kira-kira.



Fenomena menarik dari eksistensi pasar tradisional era kini adalah stigma negatif yang "KUMUH" terhadap pasar-pasar tradisional kita. Betapa tidak, setiap melangkahkan kaki ke gerbang pasar-pasar itu maka yang terpampang di depan mata adalah becek, kumuh, penuh sampah, bau, apek dan segudang kekurangannya.

Di tambah lagi dengan maraknya swalayan bersanding dengan pasar tradisional itu yang seolah berkompetisi dan tentunya kita semua sudah mengetahui pemenangnya. Kenapa ? Karena kumuhnya pasar-pasar "rakyat" ini tetap melekat dan tak mampu bersaing dengan kinclongnya swalayan,supermarket, hypermarket di sebelahnya.

Ada 3 hal pokok yang mengokohkan stigma kumuh pasar tradisional :

PERTAMA
Tidak tersedianya tempat sampah yang cukup

KEDUA
Tidak tersedianya pengelola pasar yang profesional

KETIGA
Liar dan ilegalnya pedagang pasar. Sederhananya begini, identitas pedagang pasar sangat tradisional berdasarkan keakraban.

HARGA BAWANG MAHAL, APA ARSITEK IKUT ANDIL?

http://forumarsitek.blogspot.com. HARGA BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH MAHAL,....upsss pasti ini gara-gara arsitek. Bagi sobat yang arsitek atau calon arsitek, harap jangan kebakaran jenggot dulu. Ada beberapa faktor yang menyebabkan bawang merah dan bawang putih sulit didapatkan akibat ulah para arsitek :

PERTAMA
Desain lay out pasar kurang mempertimbangkan area HIJAU, KUNING, JINGGA, BASAH atau CAMPURAN. Akibatnya, area penjualan bawang merah & bawang putih bersebelahan dengan penjual daging. Maka merugilah para penjual bawang karena bawang jualannya lebih cepat rusak.

KEDUA
Fasilitas transportasi lokal dalam pasar tak disediakan oleh sang arsitek. Akibatnya, hall dirancang sempit atau bahkan sangat sempit. Akhirnya penyediaan stok tak terkendali, pasar jadi sumpek dan tidak nyaman. 

KETIGA
Terjadi kolaborasi serius antara arsitek, pedagang pasar, Depperindag, Bea Cukai dan Importir.....Upss, arsitek dengan dua kesalahannya di atas, pedagang pasar menimbun, Depperindag tak memberi dukungan regulasi pasar hingga mekanisme pasar meninggikan harga hingga tak terkendali, Bea Cukai tak meloloskan bawang impor & Importir memanfaatkan situasi kacau ini menjadi semakin buruk.

PASAR TRADISIONAL DALAM TEORI ES POTENG


Pada suatu siang, ada seorang penjual es "poteng", kalau istilah yang lebih populer mungkin, es campur atau es tape. Pokoknya penjual es yang sehari-harinya menggunakan sepeda pancal. Secara tidak sengaja menghentikan sepedanya dan beristirahat di bawah sebuah pohon yang sebenarnya tidak begitu rindang. Tetapi, kalau dibandingkan dengan rasa capek "pak penjual es poteng" ini, maka pohon ini adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Lumrahlah, karena setelah setengah hari ini beliau dengan sabarnya berkeliling kampung menjajakan es potengnya dan kelihatannya sudah hampir habis.

Tanpa ia sadari, beliau tertidur dan betapa kagetnya karena tiba-tiba dibangunkan oleh seorang pemulung yang nampaknya setali tiga uang keperluannya sama dengan pak penjual es ini (ingin sekedar melepas lelah di bawah pohon ini).


Cukup lama mereka ngobrol berdua hingga lewatlah serombongan anak-anak sekolah pulang dari sekolah kira-kira 4-5 orang. Kemudian mereka mampir di bawah pohon itu dan membeli es poteng, sekalian mereka traktir juga itu si pemulung.

Ringkas cerita, mereka pun buyar dan satu persatu pulang ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, terulang lagi peristiwa seperti kemarin dimana penjual es poteng berteduh kemudian ada rombongan anak-anak sekolahan mampir minum es tetapi kali ini dalam jumlah besar. Nah, kelihatannya muncul masalah baru karena es potengnya habis. Akhirnya keesokan harinya pak penjual es poteng mengajak seorang temannya sesama penjual es poteng.

Teruuussslah secara terus menerus di bawah pohon itu bertambah penjual-penjualnya dari hari ke hari. Penjual bakso, jamu, sayuran, souvenir, pakaian sampai pada suatu ketika kira-kira yaahh, sudah berjarak beberapa tahun...pak penjual es poteng itu sudah meninggal dan ada seorang penjual kain mendirikan sebuah lapak semi permanen persis di area pak penjual es poteng itu tadi. Tentunya sekarang pohonnya sudah ditebang dan sudah berdiri bangunan-bangunan semi permanen.

Rupanya tempat itu telah tersulap menjadi sebuah PASAR. Hingga bertahun-tahun, hingga saat ini dan mungkin hingga digusur lagi atau...entahlah !

Peristiwa inilah yang dijadikan orang sebagai teori cikal bakal berdirinya sebuah PASAR.

Teori ini pastilah kurang relevan untuk digunakan dari masa ke masa. Karena buktinya saat ini, pasar-pasar modern, swalayan, mall, pusat-pusat perbelanjaan toh didirikan secara "sim-salabim abrakadabra". Terlepas dari itu semua, pernahkah kita mengingat kembali "pak penjual es poteng" yang waktu itu karena tuntutan "dapur harus mengepul" harus berjuang hingga menancapkan sejarah di bawah pohon tadi ? Ataukah pernahkan kita merenungkan kembali peristiwa ditraktirnya "sang pemulung" oleh anak-anak sekolah yang kemudian menjadi titik sejarah baru itu.

Bandingkan saja antara "pasar" pak penjual "es poteng" bersama anak-anak pulang sekolah sebagai konsumennya dengan mall,"swalayan","hypermarket" bersama masyarakat konsumtifnya sebagai konsumennya. Sungguh sebuah pemandangan perbedaan yang sejatinya dimulai oleh "karakter ARSITEKTUR" yang tak manusiawi. Lihatlah, betapa gagahnya "hypermarket" itu berdiri menyambut dengan style "hingar bingarnya", menyambut konsumen ber"style" konsumtif yang dengan bangganya rela berjejer mengantri berjam-jam meskipun tak begitu jelas ingin membeli apa. Karena memang mereka tidak membutuhkan apa-apa untuk dibeli tak lebih dari hanya sekedar "TAKJUB" dan ingin turut serta "MENCICIPI" ....aroma kemewahan yang tak mungkin mereka raih.


Akhirnya apa yang terjadi, maaf...para "panrita balla" itu pun dengan bangganya menancapkan "menara gading" meskipun itu maksudnya "menara air" yang tak jelas apa hubungannya dengan ES POTENG. Kalau monumen sepeda pancal mungkin sedikit lebih relevan.

Semuanya berpulang kepada karakter apa yang berusaha kita, (anda dan saya), kita semua bangun. Karakter arsitektur tidak dapat dipalingkan dari "TEORI ES POTENG" yang sangat fenomenal itu.